Kontribusi Intelektual Mahasiswi untuk Rakyat
Kontribusi Intelektual Mahasiswi Untuk Rakyat
(Oleh: Sururum Marfuah Hash)
Mahasiswi merupakan bagian dari masyarakat yang keberadaannya memiliki peranan yang begitu penting. Tidak hanya sebagai pelajar, melainkan sebagai perempuan yang dipundaknya memiliki tanggungjawab untuk membangun peradaban. Mahasiswi juga memiliki peran besar untuk ikut berkontribusi dalam mengimplementasikan keilmuwannya untuk rakyat.
Namun sayangnya, peran ini semakin lama terus memudar. Peran mahasiswi hanya dianggap sebelah mata. Sebuah kemunduran berpikir yang terus diwariskan oleh penjajah, ketika indikator kesuksesan bagi seorang mahasiswi yakni ketika mampu kerja setelah lulus.
Bagaimana tidak? Kebijakan UKT yang mencekik mahasiswa membuat mahasiswa menyalahkan pihak perguruan tinggi yang pada dasarnya perguruan tinggi tidak memiliki kekuasaan penuh dalam pengelolaan pendidikan. Anggaran pendapatan pendidikan yang terus dipotong membuat perguruan tinggi mau tidak mau mematok UKT yang tinggi agar tetap bisa membiayai sertifikasi internasional maupun biaya operasional untuk fasilitas kampus.
Akibatnya mahasiswi hidup dengan tekanan, berlomba cepat lulus untuk meraih gelar sarjana agar bisa langsung kerja. Sungguh jauh dari harapan Indonesia, alih-alih mencerdaskan, mahasiswa justru dijadikan sebagai "santapan" untuk diperalat keahliannya.
Penelitian, karya, dan inovasi hanya sebagai pajangan jika tidak bisa dikomersialkan oleh para kapitalis. Berbagai pengaturan pendidikan terus menampakkan eksistensinya dengan adanya pergantian kurikulum yang bertahap, namun hal tersebut tidak memberikan perubahan besar terhadap peningkatan taraf berpikir pemuda. Justru pendidikan yang terkesan “memaksa” saat ini hanya mampu menghasilkan generasi yang siap lulus untuk dijadikan budak oleh para kapitalis.
Daya kritis mereka terenggut oleh tekanan praktikum dan kuliah yang padat hingga tidak peduli lagi pada kondisi perpolitikan Indonesia yang telah diperdaya sumber daya alamnya. Hal ini diperparah dengan masuknya pemikiran liberal dari barat yang disuntikkan ke Indonesia, yakni liberalisme, hedonisme, dan pragmatisme.
Menurut Fika Komara, dalam Bukunya yang berjudul “Muslimah Negarawan”, setidaknya terdapat tiga peran besar yang dapat dimiliki oleh mahasiswi, yakni menjadi seorang intelektual, ibu dari generasi penakluk, dan penggerak opini.
Peran pertama, yakni sebagai seorang intelektual. Tantangan terbesar bagi mahasiswi saat ini adalah motivasi dibalik tujuannya menuntut ilmu. Penjajahan pemikiran yang dilakukan oleh barat telah memberikan motivasi yang salah pada mahaisiswi yakni ketika keilmuwannya hanyalah digunakan untuk bekerja. Dengan demikian, dibutuhkan sebuah perbaikan pola pikir bahwa sejatinya menuntut ilmu haruslah memiliki cita-cita yang besar. Jika kebidangannya adalah dibidang pertanian, maka dengan keilmuwannya dibidang pertanian, ia bercita-cita agar dapat menggunakan ilmunya untuk memanusiakan manusia, yakni menjadi seorang ahli pertanian untuk rakyat.
Sebuah cita-cita yang lebih dari sekedar materi harus ditanamkan kepada mahasiswi. Hal ini selaras dengan yang disampaikan oleh seorang ulama (Sayyid Qutb) bahwa, “orang yang hidup bagi dirinya sendiri akan hidup sebagai orang yang kerdil dan mati sebagai orang yang kerdil. Akan tetapi, orang yang hidup bagi orang lain akan hidup sebagai orang yang besar dan mati sebagai orang yang besar,”.
Peran kedua, yakni sebagai ibu dari generasi penakluk. Pada tahun 2020 hingga 2030, menurut BKKBN, Indonesia diperkirakan akan mengalami bonus demografi yakni tingginya jumlah usia produktif. Usia produktif adalah penduduk pada kelompok usia antara 15 hingga 64 tahun. Peran seorang perempuan tidak akan pernah lepas dari peran utamanya sebagai seorang ibu. Ini merupakan sebuah peluang untuk dapat mencetak generasi cemerlang. Terlebih bagi seorang mahasiswi yang tentunya harus mematangkan dirinnya agar kelak menjadi ibu yang cerdas bagi anaknya.
Peran ketiga, yakni sebagai penggerak opini. Menjadi seorang perempuan, bukan berarti harus diam ketika melihat kesalahan pemikiran yang terjadi pada masyarakat. kontrol masyarakat merupakan salah satu hal penting untuk dapat mewujudkan generasi bangsa yang beradab. Berbagai kesibukan di kampus, bukan menjadi alasan bagi mahasiswi intelektual untuk memperhatikan problematika masyarakat, sehingga dibutuhkan penginderaan yang tajam dalam menganalisis masalah.
Seorang mahasiswi harus mampu untuk dapat membedakan antara opini dan fakta. Melalui kemampuan analisis ini, harus pula diimbangi dengan kekuatan untuk dapat mengimbangkan media massa melalui pengolahan narasi dengan bahasa sendiri dengan tujuan utama untuk menyadarkan masyarakat terhadap problematika yang terjadi.
Hal yang perlu dilakukan oleh seorang mahasiswi adalah mencari informasi yang benar dan menyebarkan pemikiran yang benar. Tentu ketika menyampaikan sebuah narasi maka harus diimbangi dengan menawarkan solusi, yang dengan solusi ini mampu untuk membuka pemikiran siapapun yang membacanya agar tergugah. Wanita memiliki peran dalam melakukan aktivias politik yang bukan hanya bermakna kekuasaan, melainkan sebuah aktivitas untuk mengurusi urusan rakyat.
Menjadi seorang perempuan, bukan berarti membatasinya untuk dapat berkarya, teruslah berkarya!. Masyarakat membutuhkan kiprahnya, geraknya, dan kepeduliannya untuk rakyat. Sebuah inspirasi untuk negeri. Salam mahasiswi.
Komentar