Hijrahku Mengenal Islam (Bagian 4)
“Kita tidak tahu, dari jalan mana seseorang akan menemukan hidayah, hal yang bisa kita lakukan adalah berupaya seoptimal mungkin untuk menyampaikan kebenaran Islam”.
Masa lalu tentang aku yang bimbang akan adanya Tuhan dan agama adalah sebuah tekanan dan kisah yang tidak akan pernah aku lupakan. Ada kalanya aku akan menceritakannya, sebagai bukti bahwa berislam tak cukup hanya dengan alasan “keturunan”. Entah, jika dakwah Islam tak sampai padaku maka apa lah yang bisa membuat aku benar-benar hidup? Tentu tidak ada.
Hidup yang hampa dan membosankan adalah kehidupan yang hanya mengejar materi, prestise, dan sekedar kebahagiaan duniawi.
Ketika pengumuman lulus SBMPTN, aku memutuskan untuk ke Bogor tanggal 19 juli yang padahal waktu untuk masuk asrama diperbolehkan tanggal 19 Agustus. Kakak-kakak yang ada di masjid raya itu menghubungkanku dengan kakak-kakak yang ada di bogor, akhirnya akupun mendapatkan tumpangan selama sebulan.
Ketertarikanku mengkaji Islam yang semakin kuat adalah saat aku bertemu dengan seorang Muallaf di kontrakan kakak-kakak yang aku tumpangi selama di Bogor, aku memanggilnya Mbak Anis. Beliau adalah seorang mahasiswa S3 yang jika ditanya tentang perjuangannya, maka perjuangan beliau dalam dakwah amatlah besar. Aku banyak menghabiskan waktu untuk berdiskusi dengannya. Aku bertanya mengapa ia memilih Islam. Tak cukup sampai disitu, aku pun selalu bertanya hal-hal tentang Islam yang akhirnya membuatku tak tahan menahan masalah sebenarnya yang aku pendam selama 5 tahun.
Aku yakin beliau adalah orang yang tepat untukku menceritakan semua kegalauanku tetang agama. Suatu malam ketika Mbak Anis sedang sibuk aku mengetuk pintu kamarnya dan bertanya, “mbak… ada waktu kosong sebentar kah? Uum mau cerita”. Mbak anis menjawab, “mau Tanya apa dek, kakak lagi ada kerjaan sih, tapi gapapa, hayuk cerita”.
Aku pun menceritakan semuanya, nangis? Jangan ditanya. Sebuah kelegaan terbesar saat aku bisa menceritakan masalah terbesar yang aku pendam, bahkan kepada orang tuaku saja aku sembunyikan. Orang tuaku mungkin mengira aku baik-baik saja, padahal sebenarnya hati ini begitu rapuh tentang agama dan Tuhan.
Tutur kata Mbak Anis yang lembut menenangkan hatiku, beliau bilang “adik coba ngaji dulu yaaa, InsyaaAllah nanti akan menemukan semua jawabannya,” akupun semakin yakin untuk melanjutkan kajianku, walaupun dulu waktu di Batam aku sudah berencana untuk fokus pada ekstrakulikuler yang akan mengembangkan potensi yang aku miliki.
Aku tak pernah berpikir untuk masuk organisasi yang berbau agama, padahal saat aku berada di SMA aku mengikuti ROHIS. Hehe, maklumlah, yang ada dipikiranku dulu kesuksesan terletak pada banyaknya materi. Padahal hidup seperti ini adalah hidup yang paling membosankan. Aku ingin mendaftarkan diri di UKM siaran, dll. Namun ternyata, ketertarikanku terhadap Islam membuatku jadi mengikuti UKM BKIM (Badan Kerohanian Islam Mahasiswa), ternyata banyak pelajaran yang aku dapatkan dari organisasi ini, mulai dari ukhuwah hingga berpikir politis.
Kajian setiap minggu aku jalani, hingga akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan mengkaji Islam dengan menggunakan kitab, kitab pertama yang paling jelas menjelaskan padaku kenapa aku harus memilih Islam dan Allah. Judul bab itu adalah “Jalan Menuju Iman”.
Perlahan keraguan yang dulu terus terjawab. Hingga aku yakin bahwa Islam tak sekedar agama untuk beribadah, lebih dari itu. Dan sekarang aku paham, apa yang membuat hidupku sangat hampa, adalah ketika aku beragama namun tak memperjuangkannya. Aku paham, bahwa menjadi seorang muslim, tak cukup hanya dari lisan melainkan haruslah lewat proses berpikir yang cemerlang. Indahnya Islam adalah memiliki aturan yang memuaskan akal, menentramkan hati, dan sesuai dengan fitrah manusia.
Dan episode baru hidupku pun telah dimulai. Diterimanya aku di IPB adalah jalan baru untukku berjuang, menggunakan seluruh potensi yang aku miliki. Hingga sampailah saatnya Allah akan memanggilku untuk pulang.
Terimakasih sudah menyimak jalan ceritaku dalam sebuah episode “Hijrahku mengenal Islam”. Doakan semoga diri ini selalu istiqamah dan terus memperkaya dirinya dengan tsaqafah dan terus berjuang dalam menegakkan Islam di muka bumi ini. Aku sangat terbuka untuk berdiskusi, dan lebih suka jika ada yang ingin berdiskusi secara langsung (girl only).
Komentar