Hijrahku Mengenal Islam (Bagian 3)

BAGIAN 3 : Berawal dari hari itu
Prak…. Kepalan tangan itu memukul tembok kamar dengan kuatnya, aku menahan sebuah rasa sakit hati karena aku tak menemukan jawaban atas semua pertanyaanku, aku menggigit tanganku lalu aku menggigit bantal untuk menahan teriakanku. Waktu itu keluargaku sedang istirahat pagi. Karena kebetulan sedang hari libur yakni hari minggu. Sakit? Jangan ditanya, aku menzolimi tubuhku sendiri waktu itu. “Kenapa aku memilih Islam?”, jawaban dari pertanyaan ini tak kunjung aku dapatkan dengan jelas yang akhirnya membuatku berada pada puncak stress.
Menjelang kelulusan SMA, ternyata semakin membuatku ragu pada agama. Aku tidak memberitahukan kepada siapapun tentang itu kecuali kepada seorang mentor (dulu aku juga ikut mentoring) yang ternyata beliau pun tidak membalas pesanku, sepertinya nomor telpon yang aku hubungi sudah tidak aktif, seorang mentor yang aku harap bisa menceritakan masalah ini kepadanya, namun sayangnya belum terbalas. Di pesan itu aku menceritakan kegalauanku terhadap Islam, aku yang mulai merasa apakah aku memiliki kepribadian ganda? Ah, ada-ada saja aku waktu itu, perkara suka nonton film jadi kayak gitu. Haha.
Selesai meluapkan amarahku yang persis kayak orang gila itu, akupun akhirnya diam, menangis lagi, aku menadahkan tanganku, dan meminta pada Allah agar aku diberikan peunjuk untuk mengenal-Nya. Walaupun aku ragu terhadap agamaku, aku tetap layaknya manusia yang yakin sekali bahwa Tuhan itu ada, dan yang aku ingin hanya Allah yang menjadi Tuhanku, walaupun aku belum tahu alasannya kenapa harus Allah yang aku sembah.
Selama SMA, aku diizinkan oleh orang tua membawa motor, walaupun begitu, aku termasuk kategori orang rumahan yang malas keluar tanpa ada perlu., dan bukan tipe orang yang suka hangout gak jelas ataupun sekedar main-main. Di hari itu juga aku langsung pergi meninggalkan rumah, aku hanya ingin pergi jauh dari rutinitasku dan menemukan tempat dimana aku bisa tenang.
Aku membawa motor dengan super ngebutnya, mungkin ini yang disebut membaranya masa muda, tak ada rasa takut mati waktu itu, karena semua amarah itu membuatku rasanya sudah bosan untuk hidup. Yang aku tau aku ingin pergi kesebuah tempat yang disana aku ingin bertemu dengan orang yang bisa mengajarkanku tentang Islam. Satu tempat yang aku tuju waktu itu adalah masjid raya Batam, yang aku tahu satu teman SMA ku suka kesana dan dia adalah orang yang alim, ku harap ada seseorang yang bisa aku temui disana.
Di Masjid Raya Batam, aku melihat kelompok-kelompok kecil yang sedang mentoring. Ingin sekali rasanya aku menghampiri kelompok mentoring itu dan bertanya, “ini pengajian apa?”. Tapi.. ketakutan dan ingatanku pada perkataan temanku mengenai islam yang mengerikan itu terus menakutiku. Sewaktu SMA, apalagi waktu kelas 3 SMA. aku suka banget ikut ngobrol bareng teman-teman, gak jarang bahasan kami diobrolan kalo enggak soal gambaran kuliah pasti bakalan soal berita yang lagi hot.
Waktu itu lagi buming juga tuh tentang ISIS, sampe ajaran sesat. Dan gara-gara obrolan itu, kalo aku nengok orang bercadar, curigaannya langsung mulai, “ih… Dia sesat gak ya” atau “ih dia kayak yang teman-teman aku ceritain itu gak ya?.
Obrolan-obrolan itu menjadi informasi awal yang akhirnya membuat aku takut untuk bertanya pada kelompok mentoring yang ada di Masjid Raya Batam itu. Tapi… terjebak pada ketakutan “kata orang” sesungguhnya sangat melelahkan. Karena takut, aku hanya bisa melihat mereka dari jauh, terhitung sekitar hamper dua jam aku dihantui rasa takut yang membuatku terus diam di tempat sambil terus bertanya dalam hati “itu pengajian yg bener gak ya?” (parno parah waktu itu).
Sampe akhirnya, aku capek banget karena cuma ngelihatin orang doang. Dengan langkah nekat, aku memberanikan diri untuk menghampiri kelompok kajian itu, “um… jangan takut, kamu gak bakalan tahu apa-apa kalo kamu gak mau cari tahu” (mencoba menenangkan hati sendiri) sampai akhirnya aku bertanya ke kakak-kakak itu, “kak… ini mentoring ya?”. Kakaknya jawab “ini kajian rutin dek,”. Terus aku tanya lagi, “kalo saya ikut boleh gak kak?” (masih rada deg-degan juga).
“Nanti jam 10 ada kajian bulanan dek, adek mau ikut kah?”, dengan sigap aku jawab bahwa aku mau ikut. Akupun mengikuti kajian bulanan itu, sepertinya disana aku adalah yang paling muda, ada juga sih anak-anak kecil yang merupakan anak-anaknya ibu disana. Dan selama kajian berlangsung, aku nyimak aja sampai terus membanyangkan obrolan teman-teman dulu (“hati-hati sama ajaran sesat, hati-hati sama ajaran teroris”). Emang yaaaa, pikiran negatif itu adalah musuh terbesar.
Hingga kajian itu selesai aku nanya lagi dalam hati “gak ada yang sesat kok , semua yang disampaikan benar. Malah seru lagi, bahas isu politik dalam sudut pandang Islam dll. Setelah itu, aku ditanya lagi sama kakaknya, “adek mau ikut kajian yang setiap minggunya?”, aku pun menjawab “iya” (dalam hati, gapapa lah ya nyobanyoba dulu).
Akhirnya akupun ikut kajian itu, sambilan juga menunggu pengumuman SBMPTN, karena sebelumnya aku ditolak di IPB lewat jalur SNMPTN dengan satu-satunya jurusan yaitu Agronomi dan Hortikultura. Siapa sangka, jika ternyata langkah yang telah aku ukir di hari minggu itu, membawaku pada sebuah langkah awal menemukan makna hidup yang sebenarnya, menemukan semua jawaban yang aku pertanyakan sebelumnya.
Komentar