HIJRAHKU MENGENAL ISLAM BAGIAN 2
BAGIAN 2
Hidup layaknya robot berjalan….
SMA adalah jenjang sekolah yang darinya aku harapkan bisa keluar dari semua masalah hati yang terjadi ketika aku SMP. Kalau siswa seumuranku mungkin sedang sibuk dengan cinta monyetnya, tapi berbeda dengan aku yang sedang sibuk dengan masalah hatinya tentang agama. Sampai aku menganggap bahwa musuh terbesarku adalah hatiku sendiri. Aku heran, kenapa hati ini rasanya seperti ingin menjauh dari pikiranku.
Hanya aku yang tahu, bagaimana sedihnya hidupku kala itu, yang harus melawan hatinya sendiri. Bukan tentang seorang lelaki, tapi tentang jati diri dan akan kemana aku setelah ini. Pertanyaan yang dulu terus menghantui hidupku.
Untuk mengalihkan itu semua, aku sibukkan diriku. Berorganisasi, menulis, berjualan, bahkan hingga bermain dengan adik-adikku, semua itu aku lakukan agar aku melupakan apa yang dibisikkan oleh hatiku. Satu hal yang paling aku inginkan, yakni hidup tenang dengan menjadi seorang muslim tanpa harus bertanya “kenapa aku memilih Islam? Kenapa aku menyembah Allah? Kenapa? Kenapa? Kenapa? “.
Jujur, ini adalah kehidupan terlelah, ketika aku hidup tanpa arah dan tanpa tujuan. Tidak ada yang tahu bagaimana stresnya aku menjalani hidup SMA. Teman-temanku yang tahu bahwa aku lulusan dari pesantren, mengira bahwa aku adalah orang yang alim dalam ilmu agama, padahal aku sendiri sedang galau dengan agamaku.
Saat mencuci baju di kamar mandi, hal yang biasa aku lakukan adalah memukul air, itu terjadi ketika semua pertanyaan itu datang menghantuiku “um… kenapa kamu memilih Islam? Kenapa kamu menyembah Allah? Kenapa kamu tidak bisa melihat Allah? Dimana Allah berada?”.
Kuredakan hatiku, “umm… kamu tdak boleh bertanya seperti itu. Pokoknya kamu itu Muslim, dan harus mati dalam keadaan muslim. Apapun yang terjadi kamu harus tetap pertahankan agama kamu” (bisikku untuk mengalihkan pertanyan itu). Kalau dulu, waktu SMP, caraku mengalihkan pikiran-pikiran yang seperti itu, adalah dengan mengambar lafadz Allah. Aku tulis banyak-banyak, sambil aku menulis, aku bisikkan kepada hatiku “pokoknya aku Cuma mau Tuhan aku hanya Allah”, tapi pertanyaan itu sesekali muncul lagi.
Lelah sekali berperang dengan hati sendiri. Bahkan aku sempat mengira, apakah ini yang disebut berkepribadian ganda? Ah sudahlah… aku terus berusaha melupakan pertanyaan itu.
Yang aku tahu, aku harus bangga menjadi seorang muslim. Dulu, hal yang bisa aku banggakan ketika menjadi seorang muslim adalah ajaran-ajaran ibadahnya seperti shalat dan puasa yang mampu memberikan kesehatan jika ditinjau dari segi ilmiah. Tapi, tak jarang aku di buat ambigu dengan berbagai pengajaran yang aku dapatkan di sekolah.
Aku bingung, kenapa pada pelajaran agama Islam, manusia pertama adalah nabi adam, tapi dari pelajaran sejarah, manusia pertama adalah kera. Semakin aku belajar, semakin lah rasanya kepalaku ingin pecah. Aku ingat sekali, dulu guru sejarahku di SMA pernah bilang kepadaku “Di Indonesia, kita gak bisa melaksanakan hukum Islam, karena founding father kita takut kalo syariat Islam ditegakkan maka nanti masyarakat akan cepat dipotong tangannya jika mencuri”..
Duar (rasa tembakan yang menusuk otakku)… pernyataan guruku semakin membuatku bertanya, mengapa ajaran agamaku menyiksa manusia? Mengapa? Apakah aku berada pada agama yang benar? Pada agama apa sebenarnya aku ini?
###
Salah satu hal yang paling sering aku lakukan ketika aku SMA adalah menonton TV, sesekali aku menonton film bioskop yang sudah lama tapi ditayangkan ulang di TV. Aku lupa nama filmnya apa, tapi dari film itu pertanyaanku terhadap agama semakin banyak. Pada film itu, menceritakan ada seorang laki-laki muslim, dan seorang perempuan yang nonmuslim. Salah satu adegan yang teringat pada memori otakku adalah saat wanita itu bertanya pada lelaki itu, “apakah menurutmu tuhan kita sama?” terus laki-laki itu menjawab “Kita sama-sama menyembah Tuhan yang sama, yakni Tuhan yang Maha Esa”.
Kalian tahu? Film itu semakin membuatku terus bertanya, “Bukankah Tuhanku dan Tuhan pada agama lain berbeda? Mengapa dia mengatakan seperti itu? Tunggu, apakah agama Islam sama dengan agama yang lain?”. Pertanyaan yang terus bertambah, tapi masalahnya aku tak pernah meluapkan pertanyaan itu kepada siapapun.
Pernah sesekali aku penasaran menggeledah buku ayahku. Ayah gemar mengkoleksi buku, salah satunya adalah buku tentang filsafat. Waktu itu aku sedang melihat-lihat buku ayahku, ingat sekali cover depan buku itu bergambarkan gajah, bagian yang aku lihat pertama kali adalah kata pengantar. Diakhir kata pengantar itu, betapa kagetnya aku, ketika tertulis “jika Tuhan itu ada, tunjukkan padaku bahwa Tuhan bisa memindahkan benda ini kesana,”. Dan tahu? Itu juga membuatku tertekan.
Tahun demi tahun aku jalani. Berharap adanya perubahan, tapi yang aku semakin dapatkan adalah keraguan. Hidupku, persis seperti robot. Aku berjalan karena dikendalikan, aku mengejar nilai, karea dikendalikan, bosan bukan? Sangat-sangat membosankan
Kehidupan yang mungkin, Begitulah kisahku hidup di kehidupan robot.
Banyak hal yang bisa kita ambil dari bagian ini, yakni berbagai upaya untuk menjauhkan seseorang muslim dari agamanya, mulai dari doktrin sebuah pendidikan, film, dan buku. Dan aku yakin,diluar sana ada banyak pemuda yang semakin mempertanyakan “Kenapa aku ada pada agama ini?” dan pertanyaan-pertanyaan yang sebelumnya pernah aku tanyakan di atas.
Pada cerita selanjutnya, aku ingin menceritakan puncak stresku yang kemudian membawaku pada sebuah episode baru.
Terimakasih sudah membaca
Komentar