HIJRAHKU MENGENAL ISLAM
Sungguh egois, ketika aku tahu kebenaran namun tak menyampaikannya. Karena aku yakin, ini tidak hanya pernah terjadi pada diriku saja melainkan juga terjadi pada banyak pemuda. Yap, sebuah kelabilan terhadap Tuhan, agama, dan tujuan hidup.
Cerita ini aku persembahkan untuk kalian yang sedang mencari jati dirinya, yang sedang mencari kebenaran, dan yang sedang mencari arah hidupnya.
Perkenalkan, namaku Sururum Marfuah Hash, panggil saja aku dengan Uum. Aku terlahir sebagai seorang muslim karena kedua orang tuaku adalah muslim. Sehari-hari aku hidup dalam lingkungan yang Islami. Orang tua Shalat, ya aku juga ikut shalat. Orang tua mengaji Alquran aku ikut mengaji Alquran. Orang tua puasa, aku pun ikut puasa. Tidak ada yang aneh bukan? Begitulah latar belakangku.
Hidup dan besar dari orang tua yang muslim bukan berarti anaknya akan sama dengan orang tuanya. Aku sadar bahwa iman itu tidak dapat diwarisi. Jika iman dapat diwarisi, tentu tidak akan ada orang kafir didunia ini, karena nabi Adam saja menyembah Allah SWT.
Bagiku, ini adalah sebuah perjalanan yang panjang, ketika aku hidup dalam sebuah keambiguitas, gejolak hati, dan tanpa arah. Berlangsung selama lima tahun sejak aku kelas 2 SMP sampai aku lulus SMA. Setelah aku pikir-pikir ini lama sekali. Mesipun gejolak itu berlangsung lima tahun, aku tetap mempertahankan diri bahwa “aku adalah seorang muslim”, beribadah seperti biasa layaknya seorang muslim.
Bagaimana awal mula keraguanku terhadap agama? Selamat membaca
BAGIAN 1. HIDUP DI PESANTREN
Baiklah, apa yang akan terlintas dalam benak kalian jika mendengar kata-kata pesantren? sebuah tempat yang Islami?Shalat berjamah? Mengkaji kitab? yap kalian benar. Begitulah gambaran pesantren yang pernah menjadi bagian dari kisah hidupku. Aku masuk pesantren ketika tahun 2010. Di pesantren, ibadah benar-benar terkontrol, selesai shalat subuh kami akan mengkaji "ta'limul muta'allim"(kitab buat para penuntut ilmu, kajian selesai maka kami siap-siap untuk mengantri makan yang panjang antriannya bisa sampai 100 orang lebih (jika telat mengantri maka bisa jadi tidak kebagian makan hehe), jam 8 pagi adalah waktunya kami sekolah, sepulang sekolah kami punya waktu istirahat untuk mencuci baju atau untuk tidur siang, setelah shalat ashar kami lanjut kajian kitab fiqih atau bahasa arab, setelah maghribh kami lanjut kajian kitab alkutubussittah, setelah isya adalah waktu untuk kami belajar dan mengerjakan tugas sekolah. Sibuk sekali bukan? Hehe. Begitulah kisahku rutinitas yang selalu kami lakukan setiap hari selama di pesantren.
Di pesantren, kami diajarkan tentang budaya mengantri, yang panjangnya bukan main. Jika bulan puasa telah tiba, antrian makanan bisa sampai 200 orang lebih. Kata ustad kami, mengantri itu agar kami terbiasa disipilin. Setelah mendapatkan makanan, kami akan membentuk lingkaran dan makan bersama. Kalo soal lauk, cukup terbilang sederhana, terkadang tahu, tempe, dan sesekali ayam.
Sekilas tak ada yang aneh bukan? Suasana pesantren yang islami adalah waktu terbaik untuk banyak beribadah. Karena disini, shalat saja kami benar-benar dikontrol, jika terlambat datang kajian, siap-siaplah dapat hukuman. Bayangkan ustad memegang selang berwarna biru lalu ulurkan tangan kalian. Plak… plak…plak… selang itu akan diayunkan ke tangan kalian. Yap, hukuman ini dilakukan agar santri tidak berani mengulangi kesalahannya.
Ketika di pesantren, aku tergolong orang yang gak suka dihukum, jadi berusaha untuk mengikuti semua rangkaian pengajian hingga selesai. Sesekali aku melakukan kesalahan karena ketiduran atau karena urusan lainnya sehingga selang biru pun pernah dilayangkan ketubuhku. Efek jera dari hukuman ini jangan ditanya, kalo aku sih langsung kapok, hehe. Mungkin bagi sebagian orang pesantrenku terbilang kejam, karena mendidik dengan kekerasan namun beberapa orang juga menganggap ini adalah hal yang biasa dan masuk dalam bagian upaya pengajaran.
Pesatrenku masih termasuk pesantren yang tradisional sehingga untuk kemajuan teknologi tidak terlalu berpengaruh terhadap kami, karena di pesantren kami tidak boleh membawa handphone, laptop, dan segala perangkat elektronik lainnya. Lulusnya aku dari pesantren aja bigung gimana cara search pakek “google”, bahkan gmail aja minta buatin sahabat di Batam. Hehe.
Bukan maksudku ingin menjelak-jelekkan pesantrenku sendiri, karena mau tidak mau aku harus jujur untuk berbicara bahwa “pendidikan dengan pola seperti itu tidaklah layak ketika mendidik tanpa membuka proses berpikir”. Aku sangat menghargai pesantrenku karena dari sanalah aku mendapatkan pelajaran hidup dan aku sangat menyayangi guru-guruku yang telah mengajarkanku ilmu agama. Sekali lagi, yang aku singgung adalah “caranya pengajarannya”, bukan pada individu ataupun pesantrennya.
Itu dari mekanisme pengajaran lewat menghukum, sekarang adalah tentang mekanisme pengajaran lewat jalan dogma dan penyampaian yang tidak terstruktur. Inilah awal mula aku merasakan keraguan tentang Islam yakni pada tahun kedua aku di pesantren. Kalian tahu? Ini adalah cobaan paling berat dari semua cobaan yang paling berat. Gimana sih contoh dogmanya?
“Agama yang benar hanyaah Islam, siapa yang tidak mati dalam keadaan Islam maka dia tidak akan masuk surga”, tegas ustadku pada salah satu kajiannya. Dogma ini aku telan bulat-bulat tanpa akhirnya melalui proses berpikir.
Dipesantrenku, ibadah mahdoh (fiqih) sangat dijunjung tinggi, terutama tata cara wudhu, shalat, buang air, cara puasa yang benar, dan lain sebagainya. Kata ustadku, jika shalatnya ingin diterima maka wudhunya harus benar. Lalu kami diajarkan cara wudhu yang benar, tak jarang ini diulang berkali-kali dengan ustad yang berbeda sehingg caranya terkadang berbeda dan aku terpaksa mengganti metode berwudhu ku (dalam Islam, masalah tata cara wudhu memang ada beberapa versi), sampai akhirnya aku suka ragu, “wudhuku benar atau tidak ya?”, saking takutnnya shalatku tak diterima dalam satu hari aku bisa wudhu hingga 20 kali, bayangkan betapa polosnya aku. Hehe.
Terus berlanjut, aku mencoba mempraktikkan semua yang diajarkan, semua membuatku takut. Aku takut shalatku tak diterima, aku takut puasaku tak diterima, sampai aku berpikir “Kenapa Islam menyusahkanku, bukankah kata ustad Islam tidak menyusahkan seseorang?”. Waktu demi waktu aku jalani, bukan keyakinan yang semain aku dapatkan dengan Islam, yang ada justru keraguan.
Hingga akhirnya aku lulus dari pesantren itu, dan pertanyaan terbesarku belum terjawab yakni “kenapa aku memilih Islam? Kenapa aku menyembah Allah? Kenapa aku tak bisa melihat Allah? Kenapa? Kenapa?” pertanyaan kenapa itu menghantui hidupku, ku kira setelah aku lulus pertanyaan ini akan hilang dan aku dapat berislam layaknya orang biasa yang cukup dengan shalat tanpa harus ada yang diragukan. Satu hal yang aku inginkan dulu yakni melupakan pertanyaan tadi.
Tapi… ternyata jauh dari yang kuduga, lulusnya aku dari pesantren tak ubahnya semakin membuatku pragmatis dan terus bertanya namun tak kunjung mendapatkan jawaban. Keraguanku semakin memuncak.
bersambung ke BAGIAN 2 (insyaaAllah COMING SOON)
Komentar